Bandarlampung, Korel.co.id —- Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya RZ Abdul Aziz, S.T., M.T., Ph.D., menjadi pembicara Workshop Kurikulum ‘Kampus Merdeka’ di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Indragiri, Riau, via daring, Senin (21/2/2022).

Ketua STMIK Indragiri H. Nurkhozin, S.E., M.P., mengatakan kegiatan ini juga dalam memenuhi tuntutan perkembangan dunia pendidikan saat ini. “Ini adalah suatu tuntutan di era digitalisasi kita harus berbenah diri. Untuk mendukung proses digitalisasi yang tidak dapat dibendung lagi,” ungkapnya.

Dalam forum ini, lanjut dia, juga mengundang beberapa stakeholder untuk memberikan pandangan dan sarannya. “Kami berharap sekali bimbingan arahan dari Bapak RZ Abdul Aziz dalam penyusunan kurikulum MBKM ini. Kami juga ingin maju seperti IIB Darmajaya,” kata dia.

Sementara, RZ Abdul Aziz mengatakan implementasi MBKM ini dikatakan mudah juga tidak, tapi dikatakan sulit juga tidak. Menurut dia, IIB Darmajaya juga melakukan perubahan kurikulum untuk menyesuaikan dengan perkembangan kondisi saat ini.
“Pak Nadiem menyampaikan terdapat lima profesi yang akan banyak diburu dalam Era Industri 4.0 dan Society 5.0. Jadi yang diajarkan hari ini oleh teman-teman dosen mungkin tidak bakal terpakai lima tahun kedepan,” ungkapnya.

Baca : Diduga Edarkan Ganja , Seorang Pemuda di Gunung Labuhan Diringkus Polisi

Doktor Lulusan Jepang ini menerangkan Era Industri 4.0 dan Society 5.0 terdapat peluang kerja baru 27–46 juta. Dia menjelaskan bagaimana mahasiswa dapat beradaptasi dengan kita mengajarkan mereka problem solver.
“Tidak lagi membebani mahasiswa, tetapi memberikan kebebasan mahasiswa sesuai dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ada sembilan kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dengan kampus memfasilitasinya,” bebernya.

Sebagai dosen, lanjut Abdul Aziz, agar mahasiswa juga mendapat jaminan mendapatkan kompetensi sesuai dengan keilmuannya bukan menjadi alumnus yang gado-gado. Meskipun mahasiswa telah diberikan keleluasaan dari 40–60 SKS menjalani program MBKM.
“Jangan sampai sembilan program tersebut diambil semua, karena sesuaikan dengan kemampuan perguruan tinggi. Selain MBKM, Kementerian memberikan delapan IKU yang sebelumnya diberikan PTN,” kata Abdul Aziz.

Dia memberikan strategi dalam implementasi MBKM untuk perguruan tinggi. Yaitu dengan membentuk lembaga MBKM di level institusi, merumuskan kebijakan di tingkat perguruan tinggi terkait implementasi Program MBKM, dan menyusun panduan/pedoman yang menjadi acuan implementasi program MBKM dan pencapaian IKU.
Kemudian, melakukan perubahan kurikulum pada program studi termasuk menyusun daftar MK yang bisa diambil lintas prodi dan menyusun prosedur operasional bagi Civitas Academica yang akan melakukan kegiatan di luar Perguruan Tinggi.

Selain itu, menyusun prosedur operasional bagi mahasiswa dan program studi untuk mengambil SKS di luar program studi selama tiga semester baik di luar prodi dalam PT dan atau pembelajaran di luar PT, membuat dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra, dan melakukan sosialisasi panduan/pedoman dan prosedur operasional kepada mahasiswa dan civitas academica. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.